Bas Nanlohy Library

Tuesday, August 08, 2006

Bas Nanlohy Library


TEOLOGI TRINITAS MASA KINI
(Basthian Y. Nanlohy)

Hingga saat ini ajaran tentang Trinitas masih merupakan soal yang terus menerus dipersoalkan. Ini terjadi bukan saja diantara para teolog, gereja, tetapi juga terjadi dalam realitas kehidupan kemasyarakatan yang majemuk. Dan Trinitas itu hingga kini masih merupakan misteri iman.
Menurut sejarahnya mulai dari jaman Bapa Gereja hingga situasi saat ini terdapat berbagai bentuk permainan dan perumusan kata yang dilakukan sebagai upaya perumusan konsepsi itu, sebagai suatu ajaran baku, tetapi kenyataannya tiap teolog besar yang datang dan pergi silih berganti belum mampu meninggalkan sebuah ajaran trinitas yang baku. Berbagai metode dan pendekatan yang ditawarkan, bagi kebutuhan teologi di masa itu dapat berguna, tetapi bagi masa kini maupun yang akan datang tentu tidaklah sama cara pandangnya.
Dengan sedikit pendahuluan tersebut, berdasarkan topik yang diberikan, untuk di bahas maka ada beberapa pandangan Trinitas yang telah lahir dimasanya akan dibahas dalam tulisan ini, terutama yang dicetus oleh teolog modern yang merenungkan misteri Allah Tritunggal, yang meliputi:
a. Teolog yang berpandangan hahwa Allah Tritunggal itu satu Pribadi, mereka ini disebutnya "trinitarianisme monopersonal".
Teolog yang mewakili pandangan ini adalah Karl Barth Dan Karl Rahner.
Menurut Karl Barth: Allah Trituriggal tidak dapat terdiri dari tiga pribadi, tiga kepribadian atau tiga subyek. Allah hanya mempunyai satu “aku” bukan tiga, satu kehendak (bukan tiga). Satu wajah, satu Sabda dan satu karya. Ia satu Tuhan.
Kata "pribadi" yang digunakan Barth dipakai untuk mengacu kepada Allah yang, esa, yang merupakan Zat berpikir, berkehendak dan bertindak, dan yang kebebasan-Nya tiada taranya. Allah itu satu pribadi dalam tiga "cara berada" (seinsweisen).
Cara berada yang rangkap tiga itu berkaitan erat dengan pewahyuan diri-Nya yang bercorak trinilitaris sejauh Allah sendiri adalah pewahyu, diwahyukan dan "keterwahyuan". Maksudnya yaitu Allah yang merupakan sumber pewahyuan-Nya yang personal (sebagai Bapa), juga merupakan baik hasil obyektif maupun hasil subyektif dari pewahyuan itu: di dalam. sejarah, Allah menghadirkan diri Nya kepada makhluk insani (sebagai Yesus Kristus) dan di dalam hati kaum beriman Allah membuat mereka menerima kehadiran-Nya sebagai Roh Kudus).
Barth pun menandaskan bahwa ketiga cara Allah mewahyukan diri dilatarbelakangi oleh keberadaan-Nya yang batiniah. Dalam waktu, Ia mewahyukan apa yang Allah itu pada hakekat-Nya sejak kekal: Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Menurut Karl Rahner: di dalam Allah tidak ada lebih dari satu subyektivitas, satu pusat kegiatan rohani, satu kebebasan dan satu kehendak; maka tiada "Engkau", tiada pemberian-diri timbal balik. Namun istilah "pribadi" juga ada referensinya dalam kenyataan ilahi: Pada hakekat-Nya Allah yang satu itu terbuka kepada pribadi-pribadi non-ilahi.
sebagai subyek yang mutlak, Allah Tritunggal memberikan diri kepada subyek yang terbatas yaitu pribadi manusia, yang mampu akan transendensi diri.
Apa yang tiga di dalam Allah itu, disebut Rahner "cara bersubsistensi yang terpilah-pilah" dan ketigaan itu pun bersangkut paut dengan komunikasi-diri dari Allah kepada ciptaan-Nya. Akan tetapi cara bersubsistensi rangkap tiga itu bukan hanya dan bukan baru terjadi berhubung dengan sejarah keselamatan, tetapi betul-betul termasuk keberadaan Allah yang imanen. Andaikata tidak demikian maka Allah tidak sungguh-sungguh mengkomunikasikan diri-Nya sendiri kepada manusia melainkan hanya tanda-tanda yang mengacu kepada-Nya atau pekerjaan yang mengungkapkan-Nya.
Padahal inti sari Injil, yang membuat kabar itu menjadi menggembirakan terletak dalam berita bahwa memang diri-Nya sendiri yang diberikan Allah kepada kita manusia. Oleh karena itu harus ada latarbelakang imanen di dalam Allah bagi pemberian diri itu. Tindakan Allah yang rangkap tiga itu bersesuaian dengan hakekat Allah yang triganda dan yang memungkinkan seluruh komunikasi diri Allah itu.
Trinitas ekonomis adalah Trinitas imanen, dan juga sebaliknya demikian Rahner.
Inkarnasi hanya dapat menunjuk kepada satu cara bersubsistensi saja yang tak tergantikan yaitu cara sang Putra, seperti juga inhabitasi Allah dalam hati kita melalui kecenderungan atau dorongan itu hanya dapat mengacu kepada suatu cara bersubsistensi yang lain, yakni kepada Roh Kudus. Sebaliknya bila Allah memutuskan untuk memberikan diri-Nya sendiri, maka hanya melalui cara bersubsistensi-Nya yang kedua Ia dapat menjelma.

b. Pandangan kelompok ketiga adalah di tengah.
Pada posisi tengah diwakili oleh Piet Schoonenberg dan Hans Urs von Balthasar.
Piet Schoonenberg:
Menurut Piet Schoonenberg, pribadi Ilahi yang satu itu menjadi antar-pribadi dengan bergerak menuju makhluk-makhluk insani. "Pribadi" bila diterapkan pada Allah, berlaku bagi Allah yang dapat disebut sang Bapa sedangkan sang Putra dan Roh hanya secara "'ekonomis" saja menjadi Pribadi-pribadi: berkat pergerakan-diri Allah menuju manusia, maka putra dan roh semakin "memprofilasikan" dirinya sendiri (sambil sekaligus membuat manusia makin lama makin pribadi. Dinamika yang disebut personalisasi" atau "hypostasasi" ini mempunyai akibat menarik sebagai berikut. Walaupun secara imanen terdapat satu Pribadi dengan dua "pancaran" (Ausstromungen, effluences) yakni sabda dan roh, namun secara ekonomis (khususnya sejak inkarnasi) terdapat interpersonalitas yang sungguh-sungguh.
Putra dan Roh mempribadikan diri sendiri, tetapi menganggapnya lebih tepat untuk mengatakan bahwa Pribadi Bapa mempribadikan Sabda-Nya menjadi Putra (dalam. Yesus Kristus) dan Roh-Nya menjadi Roh Putra-Nya. Dengan cara yang demikian Bapa mempribadikan diri-Nya sendiri. Proses pergerakan-diri Allah menuju manusia itu bersifat abadi dan dikehendaki-Nya dengan bebas. Proses ini berlangsung di dalam hakekat Allah, karena diri Allah sendirilah yang dipribadikan-Nya dalam kontak dengan makhluk ciptaan-Nya itu.
Hans Urs von Balthasar:
setiap makhluk insani merupakan baik "individu" (individuum") yang dilawankannya dengan kekolektipan masyarakat maupun "subyek mental" (Geistsubjekt) yang dilawankannya dengan benda mati dan makhluk yang hidupnya bersifat nabati atau hewani. Akan tetapi seorang makhluk insani dapat menjadi seorang "pribadi" (Person) dengan memperoleh suatu derajat atau martabat yang melebihi individualitas dan subyektivitas mental tadi dan yang menghindarkannya dari merosot dan jatuh ke dalam. Individualisme atau kolektivisme dalam animalisme atau voluntarisme dan rasionalisme. Martabat ini dijelaskan dengan dua cara:
Pertama secara kristologis dan antropologis orang menjadi "pribadi" berkat perutusannya.
Kristus itu Pribadi karena diutus seluruhnya (oleh Bapa); makhluk-makhluk insani akan menjadi pribadi-pribadi sejauh mereka membiarkan dirinya diutus (dengan menjadi seperti Kristus, maka "kristiani").
Kedua, dalam teologi trinitaris "Pribadi" didefiniskan sebagai diri yang secara sempurna menyangkal diri (“selfless self" das selbstlose Selbst), terdiri dari kasih murni yang memterikan segala sesuatu kepada yang lain.

c. Trinitas Sosial:
Jurgen Moltman Dan Wolfhart Panenberg.
Jurgen Moltman:
Sejarah Trinitas merupakan sejarah tiga Subyek dalam hubungan persekutuan satu sama lain. Menggunakan istilah "person" sebagai terganti kan oleh sebutan "subyek" dan sebaliknya,
keesaan Allah bukan sebagai identitas satu Subyek vang tunggal melainkan sebagai persatuan tiga Pribadi, sebuah komunitas dalam arti kata yang penuh. Untuk Trinitas yang bertindak dalam sejarah keselamatan,
dengan demikian Moltmann berbicara terang-terangan tentang tiga Subyek yang secara intim dan intensif berhubung-hubungan. Tetapi kesatuan Trinitas imanen itu lebih erat. Seperti dalam. pandangan Schoonenberg, juga dalam teologi Moltmann ada ketegangan antara para Pribadi ekonomis yang dilukiskan dengan istilah yang cukup modern di satu pihak dan para Pribadi imanen yang digambarkan dengan cara yang lebih tradisional di lain pihak. Proses-proses imanen di dalam Trinitas bersifat (adi)kodrati, kekal dan malah niscaya, sedangkan perutusan ekonomis bersifat (suka)rela, Temporal dan bebas. Tetapi karena bagi Allah keniscayaan dan kebebasan bertindih tepat, semua term tadi rupanya dapat diabarkan menjadi spontanitas, terutama spontanitas cintakasih. Allah mengasihi “dengan sendirinya".

Wolfhart Panenberg:
“kalau hubungan trinitaris antara Bapa, Putra dan Roh kudus itu berupa diferensiasi-diri timbal balik, maka hubungan itu tidak dapat diartikan sebagai cuma cara berada yang berlain-lainan saja dari satu Subyek ilahi yang tunggal, tetapi hanya dapat dimengerti sebagai proses-proses kehidupan dari (tiga) pusat kegiatan yang independen".
Bapa, Putra dan Roh Kudus digambarkan sebagai tiga penampakan dari satu medan dan kekuatan yang diidentifikasi sebagai cintakasih. Daya cintalah yang mendorong para Pribadi untuk keluar dari diri sendiri begitu rupa sehingga menghayati hidupnya bukan dari diri mereka sendiri menuju yang menuju yang lain, melainkan dari yang lain menuju diri mereka sendiri. Tiap-tiap pribadi menerima "diri”-Nya sendiri dari yang lain (kepada siapa Ia telah memberikannya tanpa ingat diri [selbslos, selflessly])
Seperti pribadi insani, pribadi ilahi pun mempunyai kodrat yang “eskatis”, artinya “mempunyai dirinya “dalam” Pribadi yang lain. Ini berarti bahwa dalam memperoleh “diri” itu kodratnya yang tempora dan fragmentaris kiranya dapat dilampaui, tetapi juga kalau demikian, kalau konsep "diri" dialihkan dari taraf insani ke taraif ilahi, harus ada distinksi antara "Aku” dengan "diri" di dalam Allah juga, dalam terminologi trinitaris, antara subyek ("Pusat kegiatan", AkLzentrum) dengan "hakekat" (Wesen).
Allah memperoleh sifat-sifat-Nya melalui tindakan-tindak-Nya yang dipilih-Nya untuk dilakukan; hakekat-Nya diperoleh secara historis. Trinitas yang terlibat dalam suatu proses itu akan diselesaikan secara eskatologis.

d. Dampak Sosio-politik-religius iman Trinitas.
Leonardo Boff: menegaskan bahwa yang dengan nama “Allah” dimaksudkan oleh Iman Kristiani ialah Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam korelasi abadi dalam peresapan serta cinta kasih timbal balik sedemikian rupa sehingga merupakan satu Allah yang maha esa. Kesatuan ini berarti persekutuan para Pribadi ilahi. Oleh karena itu Sang Esa tidak kesepian melainkan terjadi persekutuan dari ketiga Pribadi ilahi itu.
Hubungan persetutuan antara ketiga Pribadi yang seluruhnya berada satu di dalam yang lain, sampai dengan kesatuan hakekat dari Bapa, Putra dan Roh Kudus itu, memperlihatkan peresapan penuh yang timbal balik antara para Pribadi. Ketiga pribadi itu "tinggal bersama", "berada bersama" dan "saling mengesapi" dari para Pribadi ilahi yang sama-sama merupakan satu kehidupan dengan kesamaan derajat tanpa yang satu lebih dahulu atau lebih tinggi dari pada yang lain. Segala sesuatu dimiliki hersama dan dibagikan bersama, kecuali yang langsung itu; apa yang membedakan-Nya satu sama
lain. Bapa seluruhnya di dalam Putra dan di dalam Roh Kudus; Putra seluruhnya di dalam Bapa dan di dalam Roh Kudus; dan Roh kudus seluruhnya di dalam Bapa dan di dalam Putra. Dari sanalah kita manusia di bumi ini memperoleh utopi tentang sebuah kesamaan yang menghargai perbedaan: semua orang sama martabatnya dan sama-sama patut dihormati dalam kekhasan mereka masing-masing yang berbeda-beda.
Friedrich Wilhelm Marquardt: mengemukakan pandangannya tentang iman akan Allah Tritunggal sebagai berikut: bahwa, sebagaimana disadari dan diperbuat oleh umat Kristiani pada abad-abad pertama, kita herbicara tentang Allah dengan paling tepat bukan dalam doktrin melainkan dalam doa pujian dan doksologi. Di samping itu, daripada menetapkan iman akan Allah dalam ajaran teoretis, lebih tepatlah menghayatinya dalam praktek kehidupan dengan menerima tantangan untuk ikut bertempur bersama Allah melawan khaos di dunia ini, berdasarkan janji-Nya bahwa, jika kita terdorong oleh Roh-Nya- bertahan dalam pertempuran sampai akhir, kita dapat menjadi anak-anak-Nya di dalam Anak tunggal sendiri. Refleksi teologi triniter hersangkut-paut dengan jalan yang mau ditempuh orang Kristiani, sambil mengikuti jejak Kristus dan dijiwai oleh Roh-Nya, bersama dengan Allah israel yang berbicara dalam sejarah.

Komentar:
Dalam pokok bahasan tentang trinistas tersebut di atas, maka saya ingin menyoroti secara khusus konsepsi Trinitarianisme monopersonal yang dikembangkan oleh Barth.
Menurut saya, konsepsi trinitas yang dibangun sangat sentralistik yang berpusat langsung kepada sifat ekonomis maupun imanensi Allah. Tanpa ada suatu tingkatan relasioner Allah dengan ciptaanNya. Trinitas yang ditampilkan lebih dogmatis permanen dan sifatnya sangat abstrak bagi kemungkinan manusia dapat menjangkau atau mengadakan sentuhan bagi realitas “pribadi Allah” dalam hidupnya sehari-hari. Artinya terdapat ketidak berimbangan dalam memahami Allah dengan ciptaannya. Walaupun Allah dapat menyejarah dalam kehadiran Kristus di dalam peradaban manusia (dalam bentuk Ekonomis maupun imanensi) namun perimbangan bagi manusia untuk dapat mengaktualisasikan diri Allah dalam relaitas hidupnya tertutup. Sehingga menurut saya Barth membuat suatu Pengagungan Allah secara berlebihan.
Hal ini tampak dengan jelas dalam tradisi berteologi Gereja protestan yang senantiasa menggunakan Teologi Barth dalam alur pembangunan dan pengembangan Iman Kristen.
Contoh:
1. Jemaat lebih senang membangun gereja dengan biaya yang mahal demi keagungan Kristus (menurut mereka) dan tetapi untuk makan sehari saja mereka tidak mampu.
2. Jemaat selalu dianjurkan untuk melakukan hal kasih yang sangat bersifat teologis “kasih pipi kiri dan kanan jika di tampar” tanpa berpikir apakah “kasih itu” ada batasnya!